Rosidi: Keamanan Tokoh Agama Tanggungjawab Kita Semua Rosidi: Keamanan Tokoh Agama Tanggungjawab Kita Semua
Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Hairansyah, mendesak aparat penegak hukum meningkatkan keamanan serta mewujudkan rasa aman kepada masyarakat setelah terjadi... Rosidi: Keamanan Tokoh Agama Tanggungjawab Kita Semua

Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Hairansyah, mendesak aparat penegak hukum meningkatkan keamanan serta mewujudkan rasa aman kepada masyarakat setelah terjadi kasus penyerangan terhadap tokoh-tokoh agama.

Komnas HAM menemukan beberapa fakta dan fenomena yang mulai terjadi menjelang maupun sesudah memasuki tahapan kampanye Pilkada 2018 berupa penyerangan terhadap tokoh-tokoh agama yang motif serta bahkan beberapa pelaku belum jelas.

“Kewaspadaan kemudian menjadi tugas pihak keamanan bahwa rasa aman setiap warga negara untuk bisa mendapatkan rasa aman dan melaksanakan aktivitas dengan tenang,” ucap Hairansyah, seperti dikutip dari laman moeslimchoice.com, Kamis (22/2).

Meskipun penyerangan terhadap tokoh-tokoh agama terjadi bersamaan dengan tahapan Pilkada 2018, namun, dia mengaku belum menemukan benang merah.

Lebih lanjut Hairansyah menerangkan, motif penyerangan itu harus diketahui baru dapat menyimpulkan latar belakang tindak pidana tersebut.

“Tidak bisa disimpulkan. Kalau soal motif itu harus didalami lebih lanjut. Kami tidak mungkin berspekulasi yang automatically mengaitkan dengan proses pilkada walaupun terjadi menjelang atau ditahapan pilkada yang sedang berjalan,” ujarnya.

Sampai saat ini, dia mengaku belum mendapatkan laporan pengaduan perlindungan dari para korban penyerangan tersebut.

“Kami hanya memantau saja. Kami biasanya berdasarkan pengaduan atau proaktif, tetapi sampai sekarang hanya mengamati, mencermati mengkaji kalau kemungkinan terjadi pelanggaran HAM yang paling mendasar. Belum ada pengajuan,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto mencatat penyerangan terhadap pemuka agama sudah terjadi sebanyak 21 kali.

Penyerangan itu terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia dari kurun waktu Desember 2017-Februari 2018. Sebanyak 15 kali dilaksanakan pelaku penyerangan merupakan orang yang tidak waras.

Senada dengan Hairansyah, Ketua Dewan Pembina Lembaga Bantuan Hukum Anarki Nusantara 56 (LBH Antara 56) Rosidi Roslan juga berharap adanya ekstra penjagaan dari semua elemen masyarakat terhadap tokoh agama.

“Rasa aman dan nyaman terhadap tokoh agama bukan hanya tanggungjawab aparat saja, tetapi tanggungjawab semua masyarakat,” ujar Rosidi yang juga pengurus Gerakan Ekonomi dan Budaya Minangkabau (Gebu Minang) bidang kesehatan dan lingkungan.

Meskipun tanggungjawab menjaga keamanan merupakan juga pada masyarakat, Rosidi menyarankan agar masyarakat tidak main hakim sendiri terhadap pelaku yang melakukan penyerangan terhadap tokoh agama.

“Bila menangkap pelaku penyerangan sebaiknya diserahkan ke polisi guna diselidiki lebih lanjut motifnya dan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia,” kata Rosidi yang juga Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Bung Karno (IKA UBK).

Rosidi menduga bahwa penyerangan yang dilakukan terhadap tokoh agama merupakan upaya adu domba umat oleh kalangan tertentu yang tidak menginginkan adanya persatuan dan kesatuan di Indonesia. Oleh karena itu, Rosidi berharap agar masyarakat tidak terpancing isu negatif yang dapat memecah persatuan dan kesatuan diantara umat.

“Kita harus senantiasa merapatkan barisan agar Indonesia yang kita cintai ini tetap aman dan nyaman bagi siapapun,” ucap Rosidi saat ditemui di sela-sela kesibukannya.

Dia menuturkan, kita harus meniru para pendiri negeri ini yang selalu menjaga kerukunan antar umat beragama. Sehingga NKRI tetap aman, nyaman dan sejahtera untuk rakyatnya sampai saat ini.

“Kalau Anda tidak senang melihat kerukunan yang tercipta di negeri ini, ya silakan Anda keluar dari Indonesia,” tutup Rosidi.