Kepada Para Politikus Kepada Para Politikus
Seperti kita tahu bahwa tahun 2019 nanti kita bangsa Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi. Para pemain politik masing-masing ingin memperoleh suara terbanyak alias kemenangan.... Kepada Para Politikus

Seperti kita tahu bahwa tahun 2019 nanti kita bangsa Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi. Para pemain politik masing-masing ingin memperoleh suara terbanyak alias kemenangan. Ada yang dijagokan, ada yang menjagokan dirinya sendiri. Merekapun punya niat masing-masing. Ada yang berniat ingin menegakkan dan membela kebenaran. Ada yang ingin meraih popularitas. Ada yang ingin memperoleh kursi. Bahkan takjarang ada yang ingin meraih kekayaan. Nabi SAW bersbda: “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Dan setiap amal itu akan memperoleh (balasannya di sisi Alloh) sesuai dengan niatnya masing-masing…” HR. Bukhori, Muslim.

Setelah kita bicarakan niat, selanjutnya kita bicarakan strategi atau teknis. Sebelum pesta demokrasi itu digelar, masing-masing kandidat sibuk menyusun strategi demi meraih simpatik massa agar mereka memperoleh suara terbanyak demi meraih kemenangan. Dari strategi masing-masing, ada yang menempuh jalan yang cantik dan baik sesuai prosedur. Ada yang menempuh jalur nakal, dengan cara saling menghina dan menjatuhkan oposisinya. Ada yang menempuh jalur kotor dengan menghalalkan segala cara.

Mereka yang menmpuh jalur kotor ini bisa mencari dana kampanye dari manapun tak peduli halal atau haram. Begitupun dalam meraih simpatik massa, tak peduli melakukan cara apapun, halal atau haram mereka lakoni. Misalnya dengan menggandeng kaum selebritis (artis). Mereka dibayar kemudian disuruh menyanyi dan menari erotis yang menantang undang-undang Alloh dan mengundang murka Alloh. Bagi mereka “Biarin Alloh murkakepada kami, yang penting kami memperoleh simpati massa, terus kami menang. Biarin Alloh murka kepada kami, yang penting orang-orang senang kepada kami. Emangnya Alloh yang memberi kedudukan dan kekuasaan kepada kami, toh yang memberi kekuasaan kepada kami adalah rakyat…!” Ekstrimnya adalah, “Biarin kami ke neraka yang penting di dunia kami sukses, dapat harta, tahta dan wanita…!”

Mereka para pemain politik lupa akan firman Alloh: “Katakanlah (olehmu hai Muhammad): “Ya Alloh Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. 3:26

Sesungguhnya yang memberi kekuasaan adalah Alloh, bukan rakyat. Dan bagi siapa yang dikehendaki Alloh maka Dia akan berikan kekuasaan itu, pun Dia mencabutnya kepada siapa yang Dia kehendaki. Mereka para politikus juga lupa bahwa menang kalah itu sudah ditetapkan Alloh dalam buku induknya (lauh mahfuzh) sebelum alam semesta ini diciptakan.

Alloh swt berfirman: “Tiada suatu bencana (kejadian)-pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) yang menimpa dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Alloh. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” QS. 57:22-23.

Ingat bahwa semua kejadian apapun telah ditetapkan oleh Alloh dari sejak terciptanya alam semesta sampai qiyamat. Hal ini juga dinyatakan oleh Rosul-Nya: “Sesungguhnya Alloh telah menetapkan taqdir kepada seluruh makhluq-Nya 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi,.” HR. Bukhori, Muslim.

Oleh karenanya kita dilarang berputus asa dan kecewa dari apa yang luput dari kita, karena memang taqdir-Nya demikian. Pun kita tak perlu bangga dengan apa yang kita peroleh, karena memang taqdir-Nya demikian. Seorang mu’min hanya disuruh berniat dan berusaha dengan benar. Jika niatnya dan usahanya benar maka itulah yang akan ia peroleh balasannya dari Alloh, berupa ridho, ampunan dan pahala-Nya berupa surga yang penuh dengan kenikmatan. Sebaliknya jika niat dan usahanya salah, maka iapun akan memperoleh sesuai dengan niat dan usahanya itu yaitu murka Alloh yaitu neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih.

Mengapa kita bangga dengan hasil yang kita peroleh, bukankah hasil yang kita peroleh memang sudah ditetapkan Alloh jauh-jauh hari sebelum Alloh ciptakan langit dan bumi? Buat apa kita bangga dengan hasil yang kita peroleh, jika niat dan cara kita tidak benar, padahal kita akan meninggal dunia dan hanya membawa dosa-dosa akibat niat dan cara kita salah?

Seorang mu’min tak akan kecewa dengan kekalahan pun tak perlu bangga dengan kemenangan, karena ia tahu bahwa semua kejadian telah ditetapkan oleh Alloh SWT. Yang penting bagi si mu’min adalah bahwa dia telah berniat dan berusaha dengan benar. Dan mu’min sadar betul bahwa semua gerak-geriknya dilihat, dicatat dan kelak akan dibalas oleh Alloh SWT.

Bagi politikus yang beriman, maka ia akan bermain dengan cantik. Karena bagi mereka adalah niat dan caranya, mereka sadar bahwa yang akan dibawa mati adalah niat dan caranya. Sedangkan hasilnya telah ditetapkan oleh Alloh, maka mereka akan tawakkal kepada Alloh. Sehingga akhirnya hati mu’min itu merasa tetang dan tentram. Alloh SWT berfirman: “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Alloh untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Alloh orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” QS. 9:51.

Juga firman-Nya: “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Alloh-lah tentara langit dan bumi [yaitu para malaikat yang akan menolong orang-orang yang beriman] dan adalah Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Alloh, dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Alloh. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Alloh memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah seburuk-buruk tempat kembali.” QS. 48:4-6 (Teguh Wibowo/Abu Zahro)