Semanan Gelar Pemilihan Balon Dekot Jakbar, Wartawan Tak Raih Suara Semanan Gelar Pemilihan Balon Dekot Jakbar, Wartawan Tak Raih Suara
SekilasKota.com | Pemilihan bakal calon Dewan Kota Jakarta Barat periode 2018-2023 digelar semalam (26/8/18) di aula kantor lantai 3 Kelurahan Semanan, Kalideres. Pemilihan yang... Semanan Gelar Pemilihan Balon Dekot Jakbar, Wartawan Tak Raih Suara

SekilasKota.com | Pemilihan bakal calon Dewan Kota Jakarta Barat periode 2018-2023 digelar semalam (26/8/18) di aula kantor lantai 3 Kelurahan Semanan, Kalideres. Pemilihan yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB berlangsung aman dan tertib.

Acara yang diselenggarakan Panitia Pemilihan Kelurahan (PPK) Semanan ini turut dihadiri pula oleh Lurah Semanan, Kepala Pos Polisi Semanan, Bimas dan Babinsa Semanan. Terlihat pula seluruh Ketua RT (Rukun Tetangga) dan Ketua RW (Rukun Warga) se-Kelurahan Semanan yang keseluruhannya berjumlah 129 orang yang memang merupakan pemilih sah bakal calon Dewan Kota Jakarta Barat Kelurahan Semanan.

Dalam sambutannya, Lurah Semanan merasa senang dengan kehadiran para Ketua RT dan RW se-Kelurahan Semanan yang semuanya lengkap berjumlah 129 orang. Lurah juga berpesan agar bagi calon yang menang atau kalah harus menerima dengan ikhlas sehingga suasana tetap tertib.

Sebagi informasi, pemilihan kali ini diikuti oleh 4 calon dengan latar belakang yang berbeda. Dengan 4 calon tersebut yaitu Murdani (nomor urut 1), Rudi Hartono (nomor urut 2), Sunarya (nomor urut 3) dan Rojali AR (nomor urut 4).

Menurut informasi yang dihimpun, calon Murdani merupakan seorang ustadz yang memang aktif di berbagai kegiatan pemerintahan yang berhubungan dengan masyarakat. Sedangkan calon Rudi Hartono diketahui adalah seorang wartawan media online. Hampir sama dengan calon nomor urut 2, calon Sunarya adalah seorang jurnalis dan aktivis keterbukaan informasi publik. Dan calon terakhir, Rojali AR, menurut informasi adalah seorang aktivis senior yang kritis terhadap situasi dan permasalahan di Semanan.

Dengan tertib dan terkendali, PPK memanggil satu persatu pemilih dengan dimulai para Ketua RW untuk melakukan pencoblosan kertas suara di tempat pencoblosan. Usai Ketua RW, PPK kemudian melanjutkan memanggil para Ketua RT untuk mencoblos.

Usai pencoblosan, kotak suara yang terbuat dari kardus pun dibongkar dan penghitungan pun dimulai.

Dari awal penghitungan, PPK hanya menyebutkan dan mencatat nomor urut 1 dan 4, yaitu Murdani dan Rojali AR. Hasil akhir, Murdani memperoleh suara sebanyak 65 suara, Rudi Hartono tanpa suara, Sunarya juga tidak memperoleh suara dan Rojali AR dapat 64 suara. Sehingga, bakal calon Dewan Kota Jakarta Barat dari Semanan yang berhak maju pada tahapan selanjutnya adalah Murdani.

Kosong Perolehan Suara
Sejumlah masyarakat sedikit heran dengan tidak adanya perolehan suara untuk Rudi Hartono. Karena menurut informasi, Rudi sebagai calon sebelum pemilihan telah memperkenalkan diri ke para Ketua RT dan RW. Bukan hanya itu, penyampaian visi dan misi Rudi juga bagus dengan komitmen memajukan Semanan.

“Setahu saya, Rudi itu sebelum pemilihan sudah bersilaturahim ke beberapa RT dan RW, tapi kenapa tidak dapat suara?,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Semanan, Sabenih Manong.

Rudi Hartono sebagai calon mengakui, bahwa sebelumnya dia telah mendatangi beberapa RT dan RW untuk memohon dukungan. “Ya saya memang main dan merapat ke rumah beberapa orang RT dan RW,” terang Rudi.

Menurut Rudi, tidak adanya suara untuk dirinya dan juga untuk Sunarya kemungkinan besar karena dirinya dan calon Sunarya adalah seorang wartawan.

“Kapan mau majunya Semanan kalau begini terus,” ucap Rudi terkait kekalahannya.

Komentar Tokoh Masyarakat
Ditemui usai pemilihan, dikantornya, tokoh masyarakat Semanan yang juga berprofesi sebagai pengacara, Sabenih Manong yang memang mendukung dan menjagokan Sunarya merasa kecewa dengan kekalahan Sunarya. Karena menurutnya, visi dan misi yang disampaikan Sunarya bagus dan tepat.

Diakui Sabenih, setinggi apapun pendidikan yang dimiliki calon namun apabila kurang pendekatan terhadap para RT dan RW yang memang sebagai pemilih, kemungkinan menang sangatlah kecil peluangnya. Hal ini pernah dialaminya saat pemilihan bakal calon Dewan Kota periode sebelumnya.

“Demokrasi di Semanan ini masih belum berjalan sesuai hati nurani, semua seperti ada persekongkolan. Jika ada seorang yang kritis maka dia akan dicap jelek, dan selamanya akan jelek,” tutur Sabenih.

Menurut Sabenih, Sunarya itu termasuk salah seorang yang dicap jelek oleh sejumlah RT dan RW terkait pembagian beras rakyat miskin (raskin) beberapa tahun yang lalu. Padahal, Sunarya pada saat itu ingin berbuat untuk masyarakat dengan membagikan beras raskin sesuai peraturan dan Perundang-Undangan yang berlaku. Bukan hanya itu, Sunarya juga pernah protes pada saat tukang sampah diberhentikan sepihak oleh salah satu pengurus RW.

“Akibat gerakan Sunarya ini terkait beras raskin sehingga calon Sunarya dianggap musuh bersama oleh sebagian RT dan RW,” jelas Sabenih.

Beberapa masyarakat lainnya yang mengetahui pemilihan tersebut juga menyayangkan sikap para Ketua RT dan RW yang memilih hanya berdasarkan pendekatan emosional tanpa melihat keahlian, pendidikan dan visi serta misi para bakal calon Dewan Kota Jakarta Barat.